Monday, February 27, 2012

to Whom all the praises be

Allah swt is our Rabb. He is The Sustainer, Cherisher, Provider, Protector. He is The Most Powerful, The Most Magnificent, The Most Gracious, The Most Merciful. He is Alone. He has no partners. He alone is The Creator. Anything else other than Him is creation. He is completely free of any needs. But the creation is completely in need of Him. When there was nothing there was Allah, when there will be nothing there will be Allah. Allah swt is sustaning everything; the fish in the ocean, the animals in the jungle, the birds in the sky. Allah created the clouds, and He Himself sends down the rain. Allah created the cows, and He Himself provides the milk. He can give rain without the clouds, He can give milk without the cows. He is The All-Knowing. Nothing escapes His knowledge. He knows when a black ant is creeping on a black rock in the darkest of night. He knows when a leaf is falling off in the darkest of the jungle. He knows when two tiny grains of sand are rubbing against each other at the bottom of the ocean. He gives shame, He gives fame. He gives success, He gives failure. He is in control of the hearts. If the entire humanity submitted to/turned away from Him, it will not increase/decrease His rank even by a bit. If the first and the last among us, all the Jinn gathered in one place, and every one of us asked from him, and He granted every single thing that we'd asked, His treasuries will not decrease even by a drop of water. If all the trees were made pens and the oceans were made ink, added another seven oceans on top of that, we will never be able to write down all the bounties of Allah. The angels can count the drops of rain that have befallen the earth, but they cannot count the bounties of Allah. If the entire world gathered in one place to benefit/harm a person, without the Will of Allah it will not happen. It is not "Allah CAN do everything," but it is "Allah who IS doing everything."



“The seven heavens and the earth and all that is therein, glorify Him and there is not a thing but glorifies His Praise” (Al-Isra’ 17:44) Image courtesy of lettertomyoldself.tumblr.com

This is what is contained in Lailahaillallah. It's not merely a sentence, it's a conviction of the heart. It is not just to be said on the tongue, it is to be inculcated in the heart. This kalimah is so precious that, if it was put in one pan of a scale, and the seven heavens and the seven earths were put in the other, Lailahaillallah will outweigh everything on the other side. If a person recites this kalimah with sincerity, a pillar holding up the 'Arasy (Throne) will start shaking, and it will not stop until the sin of the reciter is forgiven. If a person dies believing sincerely in this kalimah, he is entitled to Jannah.


p/s: May Allah give me and you the taufiq to bring the reality of this kalimah in our hearts. Please pray for me, I'm weak.

Wednesday, February 1, 2012

Asbab kemenangan para sahabat r.hum



Saidina Umar r.hu telah melantik Atbah bin Ghazwan r.hu sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu beliau telah memberikan perintah.

"Senantiasalah menjaga ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya dan selalu".

Satu ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang Islam.Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan lari.Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas dihadapannya.Maka tawanan itu memberitahu perkara yang sama dan menerangkan bahwa mereka-mereka itu adalah ahli ibadat diwaktu malam dan kesatria (da'ei) disiang harinya.Orang-orang Islam itu juga tidak mengambil sesuatu walaupun daripada Zhimmi (orang-orang kafir yang dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka berjumpa,mereka memberi dan menjawab salam.Raja Heraklius menjawab dengan cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat,maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.
Heraklius mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Amr bin al-'As r.hu memberitahu Abu Bakar Siddiq ra. mengenai keadaan tersebut.Sebagai jawapan kepada persoalan itu,maka Abu Bakar r.hu menulis:

"Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa".

Al-Imam Al-Baihaqy mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata, "Aku ikut dalam perang Mu'tah.Ketika jarak antara kami dan orang-orang musyrik semakin dekat,kami boleh melihat jumlah pasukan mereka yang banyak,membawa kelengkapan persenjataan lengkap,mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas.

Tsabit bin Arqam r.hu berkata saat ketikakunya dan berkata, "Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau sedang melihat pasukan yang besar."
"Benar", jawabku.Dia berkata, "Engkau tidak bergabung bersama kami di Badar.Kami menang ketika disaat itu bukan kerana jumlah kami yang banyak".(Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)


Ahmad bin Marwan bin Maliky di dalam Al-Mujalasah, dari Abu Ishaq, dia berkata, "Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para sahabat r.hum.

Ketika Heraklius tiba di Antholia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan para Sahabat r.hum,dia bertanya,"Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan,bukankah mereka manusia seperti kalian?"
Mereka menjawab, "Ya".
"Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataupun mereka?"
"Kamilah yang lebih banyak jumlahnya dimanapun kami saling berhadapan".
"Lalu mengapa kalian boleh dikalahkan?"
Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, "Kerana mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari,menepati janji,menyuruh kepada kebajikan,mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara satu yang lain.Sementara itu,kita pula suka minum arak,berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji,suka marah,berbuat sesuka hati dengan bebasnya,menyuruh kepada kebencian,melarang hal-hal yang diredhakan Allah dan berbuat kerosakan di bumi".
Heraklius berkata, "Engkau telah berkata benar dan membuatku mempercayainya".(Al-Bidayah 7:15, Ibnu Asakir 1:143)

Tuesday, January 31, 2012

Ubah pemimpin zalim dengan amalan

Item ini jelas, bertepatan dengan Islam, ia bertitik tolak dari kepimpinan adalah amanah dan tangung jawab, sebarang penyelewengan mesti ditegur oleh rakyat. Rasulullah sendiri menerima pandangan dann teguran para sahabat dalam beberapa persitiwa yang terkenal antaranya, teguran Al-Habbab Ibn Munzir r.hu dalam menentukan kubu terbaik dalam peristiwa perang Badar, begitu juga teguran Suad r.hu dalam kes ditolak dengan busar oleh Rasul Saw dan banyak lagi.Hak teguran ini digalakkan begitu hebat di zaman Khalifah Islam yang pertama Abu Bakar As-Siddiq r.hu dimana beliau menyatakan dalam ucapannya yang mashyur.

Mafhum : “Sesungguhnya aku hanya dilantik dr klgn kamu, bukanlah aku yang terbaik dr kamu, kiranya aku berada di landasan kebenaran maka bantulah aku, taatilah aku selagi mana aku mentaati Allah dan RasulNya, maka apabila aku menderhaka Allah maka tiadalah wajib lagi taat kepadaku”.(Turuq hukmiyah, Ibnu Qayyim dan Kanzul Amwal, Abu Ubaid al-Qasim hlm 11)

Islam mempunyai sikap tegas terhadap para pemerintah zalim dan bersifat autokratik atau diktator. Sabda Nabi Saw : “Sekeras2 manusia yang dikenakan azab di akhirat kelak adalah pemimpin yang zalim”( Minhaj as-Solihin, hlm 444)

Bagaimanapun rakyat yang ingin menegur pimpinan negara Islam seeloknya menjaga adab-adab teguran yang sesuai tetapi jika ia tidak diendahkan, Islam membenarkan pimpinan tersebut diturunkan kerana ia dianggap kepimpinan negara Islam yang menyeleweng, demikianlah pandangan Syeikh Sa’id Hawwa di dalam kitabnya Jundullah hlm 380. Beliau juga menambah bahwa proses menurunkan perintah itu boleh dibuat secara aman.

Prof. Dr. Muhd Salam Madkur menegaskan adalah suatu kewajiban untuk menurunkan pemimpin fasiq dengan amalan agama dan syaratnya kita mempunyai bukti tentang kefasiqan serta pemimpin tersebut tidak lagi boleh diberi nasihat. Demikian juga pandangan Imam Abu Hanifah rah,Imam al-Qurtubi rah, Imam Abu Hamid al-Ghazali rah (505 H) , Imam as-Syawkani rah (1255 H) dan Dr. Yusoff Al-Qaradhawi.

Manakala Abu Yu’la al-Farra al-hanbali rah menuruti pandangan Imam Ahmad Hanbal rah yang tidak menentang dan menjatuhkan khalifah Makmun dan Mu’tasim. Imam Al-Mawardi rah ( 450 H) menyebut dalam sesebuah negara Islam yang menyeleweng seorang khalifah itu boleh diturunkan jika berlaku kezaliman dan fasiq(Al-Ahkam as-Sultaniyyah, Al-Mawardi, hlm 27)

Imam an-Nawawi rah pula dalam mensyarahkan hadith muslim, “Adapun keluar daripada mentaati pemerintah dan memeranginya (dengan senjata) adalah haram dengan Ijma’ al-Muslimin sekalipun mereka itu fasik ataupun zalim. Ini semua jelas terbukti di dalam hadith-hadith yang memberi maksud apa yang aku sebutkan? Kata para ulama? :” Sebab tidak dipecat dan diharamkan keluar menentangnya adalah kerana membawa kepada fitnah dan tumpah darah dan kerosakan yang nyata, maka menjadikan kerosakan memecatnya lebih besar dari mengekalkannya."?

Dalam mensyarahkan hadith lain pula an-Nawawi menyebut: “ Sesungguhnya tidak harus menentang pemerintah hanya sekadar zalim atau fasik selagi mereka tidak mengubah suatu daripada kaedah-kaedah Islam.(Syarah Sohih Muslim oleh an-Nawawi, jld 12)

Ad-Dawudi rah pula menyebut: “yang menjadi pegangan para ulama, mengenai para pemerintah yang zalim ialah sekiranya mereka boleh dipecat tanpa sebarang fitnah dan kezaliman, maka wajib dipecat, jika tidak, maka wajib bersabar” (Fath al-Bari oleh Ibn Hajr al-Asqalani m.s. 498/jilid 14 cetakan dar al-Fikr, Beirut)

Ibn ‘Atiyyah rah pula menyatakan : “As-Syura adalah prinsip syariah, mana-mana pemimpin yang tidak ber’syura’ bersama ahli agama, maka menjatuhkannya adalah WAJIB”(Tafsir Al-Qurtubi, 4/249)

Rasulullah Saw bersabda :"Kami telah berbai’ah kepada Rasulullah untuk dengar dan taat dalam keadaan susah ataupun senang, suka ataupun benci dan (dalam keadaan pemimpin) lebih mementingkan dunia melebihi kami.(Kami juga berbai’ah) untuk tidak merebut kekuasaan dari pemerintah melainkan jika kami melihat ‘Kufr Bawwah’ (kekufuran yang nyata) yang kami mempunyai alasan disisi Allah (kami juga berbai’ah) untuk menyatakan al-Hak dimana saja kami berada dan kerana allah kami tidak takut kepada celaan sesiapa yang mencela." (Riwayat al-Bukhori, no 7199, Muslim no. 1836)

Jelas dari hadith di atas tahap untuk kesabaran dan tindakan yang perlu diusahakan oleh individu Islam terhadap pemerintah mereka yang terang-terang melakukan maksiat serta menggalakkannya.

Janji Allah Swt dengan amalan agama

Bukankah Allah Swt telah menyatakan, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang melaksanakan amal-amal soleh bahawa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan adalah benar bahawa Dia akan memperkukuhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, selepas mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap mentauhidkan-Ku dengan tidak mensyirikkan Aku. Dan sesiapa yang ingkar setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (Surah an-Nuur, 24: 55)

Oleh sebab itulah al-Hasan al-Bashri rah pernah berkata, “Sesungguhnya kemunculan al-Hajjaj (salah seorang pemimpin zalim di zaman beliau - pen.) adalah disebabkan azab dari Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri kerana sesungguhnya Allah telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Surah al-Mukminun, 23: 76)

Begitu juga dengan kata Thalq bin Habib rah, “Lindungilah diri kamu dari fitnah dengan ketaqwaan.” Beliau ditanya, “Simpulkanlah untuk kami apa itu ketaqwaan?” Beliau pun menjawab, “Iaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan petunjuk daripada Allah dengan mengharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan petunjuk daripada Allah kerana takut akan azab Allah.” (Minhajus, 4/527-531)

Syaikh as-Sa’di rah berkata dalam Tafsirnya, “... Sebagaimana para hamba (masyarakat) itu jika baik dan istiqamah berada di atas jalan yang benar, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, iaitu menjadikan untuk mereka pemimpin-pemimpin yang bersikap adil dan insaf. Bukan yang zalim lagi jahat. (‘Abdurrahman B. Nashir as-Sa’di, Taisir Karim ar-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan, 1/273)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) berkata, “Aku telah menyebutkan dalam bab yang lain bahawa punca kepada masalah yang berlaku kepada para pemerintah, kemudian para menterinya, hakim-hakimnya, dan para panglimanya bukan hanya perlu dilihat dari kekurangan pada diri mereka sahaja, akan tetapi kerana kekurangan para pemimpin dan rakyat sekaligus, kerana bagaimana keadaan kamu, maka begitulah akan dijadikan pemimpin untuk kamu. Allah Ta’ala berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman (pemimpin) bagi sebahagian yang lain.” (Surah al-An’am, 6: 129).” (Majmu’ al-Fatawa, 35/20)

Islam adalah sebuah agama yang telah lengkap lagi menyeluruh meliputi setiap persoalan kehidupan alam manusia. Ini termasuklah dalam urusan bermu’amalah terhadap para pemimpin.Dalam perkara ini, Islam amat memandang tinggi kedudukan seorang pemimpin bersesuaian dengan tugas dan beratnya tanggungjawab yang dipikul oleh pemimpin itu sendiri. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Sultan (pemimpin) itu adalah naungan Allah di bumi, sesiapa yang menghinanya, maka Allah akan menghinakannya dan sesiapa yang memuliakannya, nescaya Allah akan memuliakan dia.” (Hadis Riwayat al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 6/17, no. 7373.)

Sabar antara sifat sahabat

Telah tercatat dalam sejarah di era para sahabat berkenaan kekejaman seorang gabernor di bawah pemerintahan Khalifah Malik bin Marwan yang bernama al-Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafi. Di mana dia (al-Hajjaj) telah membunuh sehingga ribuan jiwa. Sahabat yang mulia seperti Abdullah B. Mas’ud, Abdullah bin Zubair, dan tabi’in Sa’id B. Jubair juga turut terbunuh. Tetapi, bagaimanakah Sikap para sahabat yang lain pada ketika itu, adakah mereka bertindak mengumpulkan kekuatan untuk memberontak? Demi Allah, tidak sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat dalam hal-hal yang makruf. Zubair bin Adi berkata, “Kami mendatangi Anas bin Malik mengeluhkan perihal al-Hajjaj. Anas pun menjawab, “Bersabarlah, kerana tidaklah datang sebuah zaman kecuali yang setelahnya akan lebih buruk sehingga kamu berjumpa dengan Tuhan kamu, aku mendengar ini dari Nabi kamu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Walaupun kedua-dua pemimpin ini begitu zalim dan fasiq, membunuh ribuan nyawa para ulama dari generasi terbaik umat manusia, minum arak terang-terangan, solat dalam keadaan mabuk, dan merosakkan ka’abah dengan manjaniq, tetapi para sahabat dan tabi’in yang hidup pada ketika itu tetap tidak melepaskan tangan ketaatan kepadanya. Bahkan para sahabat bersama-sama para ulama lainnya yang merupakan salafus soleh bagi kita, tetap bersolat bersama-sama imam mereka, al-Hajjaj B. Yusuf ats-Tsaqafi tersebut.

Kisah Sejarah Ainul Mardhiah...( bidadari syurga)

Kisah Sejarah Ainul Mardhiah...( bidadari syurga)
Bidadari merupakan salah satu anugerah Allah kepada seorang lelaki yang memasuki syurga. Bagi seorang wanita yang solehah maka bidadari bagi suaminya adalah dikalangan bidadari2 kurniaan Allah dan dia (isteri solehah merupakan ketua kepada segala bidadari- bidadari).

Berjihad/berdakwah untuk agama Allah swt merupakan satu amalan yang akan menjadi kesukaan Allah swt dan ini merupakan sunnah besar nabi SAW dan kalangan sahabat-sahabat r.hum. Setiap manusia yang mati walaupun berapa umurnya maka akan ditanya dimanakah masa mudanya dihabiskan.

Rasulullah saw bersabda“Tidak akan berganjak kaki anak Adam di Hari Kiamat hingga disoal tentang empat perkara: tentang usianya pada apa dihabiskannya, tentang masa mudanya apa yang telah diperjuangkannya, tentang hartanya dari mana datangnya dan ke mana telah dibelanjakannya dan tentang ilmunya apa yang telah dibuatnya.”(Hadith sahih riwayat Tirmizi)

Ainul Mardhiah (bidadari untuk orang yang berjihad/berdakwah untuk agama Allah swt.)

Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.
QS. ar-Rahman (55) : 58

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
QS. ar-Rahman (55) : 70

(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.
QS. ar-Rahman (55) : 72

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.
QS. ar-Rahman (55) : 74

'Ainul Mardhiah merupakan seorang bidadari yang paling cantik dalam kalangan bidadari-bidadari yang lain (bermaksud mata yang di redhai). Suatu pagi (dalam bulan puasa) ketika nabi memberi targhib (berita-berita semangat di kalangan sahabat
untuk berjihad/berdakwah untuk agama Allah) katanya siapa-siapa yang keluar di jalan Allah tiba-tiba ia syahid, maka dia akan dianugerahkan seorang bidadari yang paling cantik dalam kalangan bidadari2 syurga. Mendengar berita itu seorang sahabat yang usianya muda teringin sangat hendak tahu bagaimana cantiknya bidadari tersebut,
tetapi di sebabkan sahabat ini malu hendak bertanyakan kepada nabi saw,kerana malu kepada sahabat-sahabat yang lain. Namun dia tetap memberi nama sebagai salah sorang yang akan keluar di jalan Allah. Sebelum Zohor sunnah nabi akan tidur sebentar
(dipanggil khailulah, maka sahabat yang muda tadi juga turut bersama jemaah yang hendak berangkat tadi tidur bersama-sama sekejap.Tiba-tiba dalam tidur sahabat tersebut dia bermimpi berada di satu tempat yang sungguh indah, dia bertemu dengan seorang yang berpakaian yang bersih lagi cantik dan muka yang berseri2,lalu di tanya sahabat ini ,di manakah beliau berada,lalu ada suara yang menjawab,inilah syurga,tiba2 dia menyatakan hasrat untuk berjumpa dengan 'Ainul Mardhiah (bidadari yang Nabi saw bagitahu tadi),lalu ditunjuknya di suatu arah maka berjalanlah sahabat ini, disuatu pepohon beliau mendapati ada seorang wanita yang tak
pernah dia lihat kecantikan yang sebegitu,tak pernah dilihat didunia ini,lalu diberikan salam dan sahabat ini bertanya, andakah ini Ainul Mardhiah,wanita itu menjawab ehh tidakk(lebih kurang macam tu la dalam bahasa kita),saya penjaganya,Ainul Mardhiah ada di dalam singgahsana di sana.

Lalu dia berjalan dan memasuki satu mahligai yang cukup indah dan mendapati ada seorang lagi wanita yang kecantikannya berganda-ganda daripada yang pertama tadi di lihatnya, sedang mengelap permata-mata perhiasan di dalam mahligai,lalu diberi salam dan di tanya lagi adakah ini Ainul Mardiah lalu wanita itu menjawab,eh tidak, saya hanya penjagaya di dalam mahligai ini,Ainul Mardiah ada di atas mahligai sana, lalu dinaikinya anak-anak tangga mahligai permata itu, kecantikkannya sungguh mengkagumkan,lalu sahabat ini sampai ke satu mahligai dan mendapati seorang wanita yang berganda-ganda cantik dari yang pertama dan berganda-ganda catiknya dari yang kedua yang beliau jumpa tadi,dan tidak pernah di lihat di dunia,lalu wanita itu berkata,akulah Ainul Mardhiah, aku diciptakan untuk kamu dan kamu diciptakan untuk aku,bila lelaki itu mendekatinya wanita itu menjawab,nanti kamu belum syahid lagi,tersentak daripada itu pemuda itu pun terjaga dari tidurnya lalu dia menceritakan segala-galanya kepada sahabat lain, namun begitu dia memesan agar jangan menceritakan cerita ini kepada Nabi SAW,tapi sekiranya dia syahid barulah di ceritakan kepada Nabi saw.

Petang itu pemuda itu bersama-sama dengan jemaah yang terdapat Nabi saw di dalamnya telah keluar berperang/berjihad lalu ditakdirkan pemuda tadi telah syahid. Petang tersebut ketika semua jemaah telah pulang ke masjid, di waktu hendak berbuka puasa maka mereka telah menunggu makanan untuk berbuka (tunggu makanan adalah satu sunnah nabi). Maka kawan sahabat yang syahid tadi telah bangun dan merapati nabi saw dan menceritakan perihal mimpi pemuda yang syahid tadi.

Sahabat pemuda yang syahid tadi,dalam menceritakan kepada nabi saw,Nabi saw menjawab benar,benar,benar sepanjang cerita tersebut. Akhirnya nabi SAW berkata memang benar cerita sahabat kamu tadi dan sekarang ini dia sedang menunggu untuk berbuka puasa di syurga..

Nota penting,(nanti saya akan cerita kisah jimak penghuni syurga dengan wanita-wanita syurga)

Lirik by: UNIC (Ainul Mardhiah)
Dirimu pembakar semangat perwira
Rela berkorban demi agama
Kau jadi taruhan berjuta pemuda
Yang bakal dinobat sebagai syuhada
Itulah janji pencipta Yang Esa

Engkaulah bidadari dalam syurga
Bersemayam di mahligai bahgia
Anggun gayamu wahai seorang puteri
Indahnya wajah bermandi seri

Menjadi cermin tamsilan kendiri
Untuk melakar satu wacana
Buatmu bernama wanita

Ainul Mardhiah
Kau seharum kuntuman di Taman Syurga
Menanti hadirnya seorang lelaki
Untuk menjadi bukti cinta sejati
Ooh! Tuhan
Bisakah dicari di dunia ini
Seorang wanita bak bidadari
Menghulurkan cinta setulus kasih

Dihati lelaki bernama kekasih

Sifat jimak ahli syurga dengan perempuan-perempuan.


Allah swt berfirman:

14. Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda Yang diingini nafsu, Iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda Yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan Yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali Yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga).(Ali-Imran 14)

32. dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan Yang sia-sia dan hiburan Yang melalaikan: dan Demi Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang Yang bertaqwa. oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir?(Al-Al’am 32)


22.Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum Yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tergamak berkasih-mesra Dengan orang-orang Yang menentang (perintah) Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang Yang menentang itu ialah bapa-bapa mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman Dalam hati mereka, dan telah menguatkan mereka Dengan semangat pertolongan daripadanya; dan Dia akan memasukkan mereka ke Dalam syurga Yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah reda akan mereka dan mereka reda (serta bersyukur) akan nikmat pemberianNya. merekalah penyokong-penyokong (ugama) Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya penyokong-penyokong (ugama) Allah itu ialah orang-orang Yang Berjaya.(Al-Mujadalah 22)

Ketahuilalah saudaraku,bermula jimak itu adalah satu kesedapan yang dikurniakan Tuhan.Jimak ini juga adalah kesudahan dan kesedapan berkahwin,bila bercakap tentang lelaki,Allah swt memberikan kepadanya kekuatan syahwat kepada perempuan.kalau tiada syahwat kepada perempuan,itu dikira sebagai tidak normal,dan Allah swt memberi kepada perempuan lebih syahwat dan ada keinginan kepada lelaki.Nafsu mereka melebihi lelaki,tetapi ada pertimbangan akalnya,maka lebih banyak halnya kepada emosi.

Sayugia,Allah swt memberi nafsu kepada makan dan minum,tetapi kelazatan berjimak tidak sama dengan kelazatan makan dan minum.Maka demikian,Allah swt menjadikan nikmat dengan satu nimat adalah berbeza.Semasa berada di dalam dunia,hal yang demikian ,jimak adalah nikmat yang cukup hebat,maka orang yang masuk syurga,Allah swt akan beri juga nikmat jimak ketika berada di dalam syurga,tetapi nikmat jimak yang Allah swt beri ini ,tidak sama dengan nikmat jimak di dunia.Apabila seseoorang itu bersyukur atas nikmat jimak di dunia,maka apabila berada di dalam syurga,Allah swt akan gandakan lagi nikmat tersebut.Allah swt juga akan beri nikmat bermain-main dan berseronok dengan perempuan-perempuan.Bahasa fekah mentafsirkan perkataan imtimsaq sebagai mengambil nikmat daripada perempuan-perempuan.

Seorang mukmin itu apabila berada di dalam syurga,akan bermain dan bersenda gurau dengan isterinya dan dengan gundiknya dan di jimakkan seorang dan kemudian dengan seorang dengan secukup-cukupnya dan bersambung-sambung dengan yang lain dan di panggil yang seterusnya.

Rasulullah saw bersabda”Seseorang mukmin di dalam syurga itu akan kuat bergian-bergian(banyak kuat syahwatnya daripada jimaknya perempuan-perempuan syurga).Sahabat bertanya,Ya Rasulullah,adakah kuasa orang mukmin itu kuat untuk jimaknya di dalam syurga ?,Nabi saw berkata,diberi oleh Allah swt kurnian kuat 100 orang”. (Riwayat Tirmizi)

Allah swt memberi kekuatan jimak ini beratus-ratus kali ganda,Hal yang demikian adalah sebagai anugerah Allah kepada hamba-hambanya yang taat kepada perintahnya dan rasulnya.

Semasa berada di dunia ini lah kita kena usaha,supaya Allah swt memberi kepada kita semua nikmat-nikmat tersebut.Usahakan supaya kita berada di dunia membuat amalan-amalan seperti yakin yang betul kepada Allah dengan tidak ada tapi-tapi, solat,puasa,zakat dan haji.

Sifat-sifat ahli syurga (mesti baca)

Firman Allah swt.

“Dan orang yang bertakwa kepada Rabb-nya dibawa ke syurga berombongan, apabila mereka sampai ke syurga itu, pintunya terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaganya: Kesejahteraan dilimpahkan atasmu, berbahagialah kamu, masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (Surah az-Zumar, ayat 73).

Ketahuilah saudaraku,orang-orang yang mendiami syurga itu adalah sehabis-habis tinggi nikmat dan suka cita tinggal di dalamnya.Syurga ini tempat untuk mendapat balasan nikmat.Dikatakan juga,tiada nikmat melainkan semuanya nikmat dalam syurga iaitu bersuka-suka dan bersedap-sedap sahaja.Apabila berada dalam syurga,tiada lagi susah,tiada lagi penat melainkan senang sahaja dan tiada terkena kotor dan tercemar melainkan putih dan hening pakaian dan badan cukup memakai bau-bauan yang sedap-sedap dan rupa diri mereka itu semacam bulan purnama,dan apabila mereka makan dan minum tiada berhajat mereka itu kepada tandas.

Nabi saw bersabda "Pintu syurga ada lapan, tetapi jarak di antara satu pintu dengan yang lain amat jauh, sejauh di antara Makkah dan Hajar (sebuah kota di Bahrain). Jarak ini dijelaskan dalam hadis daripada Abu Hurairah, di mana beliau berkata: “Allah berfirman: Wahai Muhammad, masukkan umatmu yang tidak dihisab melalui pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu lainnya bersama orang lain. Rasulullah SAW bersabda: Demi Rabb yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, jarak di antara dua daun pintu syurga adalah seperti Makkah dan Hajar atau di antara Hajar dan Makkah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Syurga bukanlah tempat kotor,maka syurga hanya ada untuk kerja makan dan minum,tiada kencing,tiada berak hatta hingus pun tiada,bahkan tempat nak ludah pun tiada.Bahkan semua makanan itu akan menjadi peluh dan mengeluarkan bau semacam kasturi,maka bersuka-suka lah ria dengan isteri-isteri dan gundik-gundiknya.

Nabi saw bersabda”Awal-awal masuk syurga ialah itu adalah atas rupa,muka mereka macam bulan penuh purnama dan tiada mereka itu berludah-ludah dan mengeluarkan air liur dan tiada buang hingus,berak dan kencing,bahkan semua makanan yang dimakan dan minuman akan menjadi peluh,bermula bejana(bekas air) daripada emas,,sisir(sikat) mereka daripada emas dan perak,dan peresapan mereka itu daripada aluah,dan peluh mereka itu berbau kasturi dan tiap-tiap ahli syurga ini masuk kedalam syurga ada 2 isteri (daripada wanita2 dunia)dan lain daripada gundiknya.2 isteri itu akan boleh dinampak anak tulang betih,daripada luar dagingnya daripada segak dan cantiknya,dan tiada berselisih fikiran diantara isteri2 (tiada perasaan cemburu diantara mereka berdua)dan tidak bermaki2,tidak memarah2,tidak benci2 bahkan masing dalam keadaan sukacita mengikut darjat masing2.dan mengucap mereka itu(peghuni syurga)tasbih(subhanAllah) pagi dan petang,bukanlah diberati,bahkan bersedap2 saja(seperti menarik nafas keluar masuk dalam badan).(Hadith sahih riwayat Tirmizi)

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk syurga seperti bulan pada malam purnama dan rombongan seterusnya seperti cahaya bintang yang bersinar di langit, masing-masing daripada mereka mempunyai dua isteri yang mana mereka dapat melihat sum-sum betisnya daripada luar kulit dan di dalam syurga tidak ada orang yang tidak menikah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Ahli syurga itu cukup bagus dan cantik di jadikan Allah.Tidak ada orang yang masuk syurga itu hodoh dan buruk rupanya semacam di dunia.Jika kita ada kecacatan di dunia,segalanya kecacatan ini,apabila kita memasuki syurga, Allah swt akan tukar dengan yang baik.Dan muka semacam bulan purnama dan badan itu puteh hening,sampai nampak otot dalam tulang,dan berpakaian dengan pakaian emas seperti bergelang tangan,bermegah dengan mahkota dan sebagainya.Oleh sebab itulah,kita tidak boleh mengambarkan kerana,tiada contoh bandingnya di dunia.

Di dalam al-quran dan al-hadith memberikan gambaran tentang syurga,tetapi pada hakikatnya,ia lebih lagi,kerana itu merupakan gambaran sahaja.Adapun barang yang tidak pernah terlintas hati,tidak pernah di dengar oleh telinga dan tidak pernah di lihat oleh mata,semua ini ada dalam syurga.

Nabi saw bersabda”Jika barang yang di buang oleh penghuni syurga,nescaya terhias baginya pihak antara barang segala7 petal langit dan bumi,Jikalau penghuni syurga itu terbit ke keluar(di dunia)zahir dia akan segala gelang2nya,maka terpadamlah cahaya matahari,sebagaimana matahari memadamkan cahaya bintang2”.(Riwayat Tirmizi bertaraf gharib)

Firman Allah swt

“Di dalamnya ada sungai-sungai daripada air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai daripada susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai daripada khamar yang lazat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai daripada madu yang disaring dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan.” (Surah Muhammad, ayat 15).

DUNIA DAN AKHIRAT

Sabda Rasulullah S.A.W,

"Sesiapa yang menjadikan akhirat sebagai kerisauannya maka Allah S.W.T akan memperkayakan hatinya dan harta benda dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk dan hina, dan sesiapa yang menjadikan dunia sebagai kerisauannya, Allah S.W.T akan menjadikan kemiskinan terbayang-bayang di hadapannya dan dia akan diselubungi kesusahan. Dia tidak akan mendapat di dunia lebih daripada apa-apa yang telah ditakdirkan."

Hadith riwayat Ibnu majah dan Tirmizi.